Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel > Part 1

 


Dialah muhammad Al fatih. Seorang anak kecil, pangeran mahkota dari daulah Ustmaniyah, yang dididik dengan cara yang tidak biasa agar menjadi generasi yang luar biasa. Muhammad Al Fatih tidak hanya di tegasi dengan pukulan dari gurunya yang bernama Ahmad bin Ismail Al Kurani, Muhammad Al fatih merasakan pukulan untuk pelajaran pertamanya. Sebagaimana yang telah diamanahkan oleh sang ayah Murad II yang sangat tegas dalam pendidkan Al Fatih, sang guru pun tak segan-segan untuk benar melakukannya.

         Tidak di pungkiri, Muhammad Al Fatih kecil merasa kecewa saat menerima pukulan. Sangat mungkin hati kecilnya terluka. Tapi sang ayah, Murad II tak pernah mengkhawatirkan hal itu sedikit pun, karena beliau mengerti bahwa pendidikan islam pun mengerti dengan benar bagaimana untuk membongkar sekaligus menata ulang. Semua analisa ketakutan tentang jiwa yang terluka tak terbukti pada hasil pendidikan Muhammad Al Fatih.

         Selanjutnya, ada pukulan lagi dari guru berikutnya. Pukulan kedua ini yang lebih di kenang pahit oleh Muhammad Al Fatih. Kali ini pukulan datang dari gurunya yang mendampinginnya hingga ia menjadi sultan, pukulan istimewa ini  dari Syekh Aaq Syamsuddin.

     Setelah beberapa tahun kemudian , akhirnya Muhammad Al Fatih meminta penjelasan kepada gurunya mengenai pukulan yang pernah ia dapatkan di masa kecil pada pelajaran pertamanya yang tenyata masih sangat membekas menjadi sebuah kenangan indah bagi Muhammad Al Fatih. 

Muhammad Al Fatih ''Guru,aku mau bertanya. Masih ingatkah suatu hari guru memukulku, padahal aku tidak bersalah waktu itu. Sekarang aku mau bertanya atas dasar apa guru melakukannya?''

Bertahun-tahun pertanyaan itu mengendap dalam diri sang murid. Tentu tak mudah baginya menyimpan semua itu. Karena yang disimpannya bukan kenangan indah, Tetapi kenangan pahit yang mengecewakan. Karena pada hakikatnya Muhammad Al Fatih tidak merasa bersalah. lantas mengapa dirinya harus menerima pukulan?, Kini Muhammad Al Fatih telah menjadiorang besar.Dia  'menuntut' gurunya untuk menjelaskan semua yang telah bettahun-tahun menggannggu kenyaman hatinya.

Jawaban gurunya sangat amat mengejutkan. Jawaban yang menunjukkan bahwa memang ini guru yang tidak biasa. Dan pantas mampu melahirkan Muhammad Al Fatih, seseorang yang luar biasa. Jawaban gurunya yang menunjukkan cara paling ampuh, yang mungkin langka dilakukan oleh metode pendidikan masa kini, jawaban Aq Syamsuddin, ''Aku sudah lama menunggu datangnya hari ini. Di mana kamu bertanya tentang pukulan itu. Sekarang kamu tau nak, bahwa pukulan kedzaliman itu membuatmu tak bisa melupakannya begitu saja. Ia terus mengganggumu. Maka ini adalah pelajaran untukmu di hari ketika kamu menjadi pemimpin seperti sekarang, jangan pernah sekalipun untuk mendzalimi masyarakatmu. karena mereka tak pernah bisa tidur dan tak pernah lupa dengan pahitnya kedzaliman,''



Maka bagaimana dengan hari ini ? Hampir semua anak zaman sekarang tidak terima apabila dirinya diperlakukan selayaknya Muhammad Al Fatih. Namun para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Swt, ketahuilah bahwa semua ketegasan yang diberikan kepada kita hari ini, mungkin dari orang tua ataupun guru kita, seperti muka masam cubitan, hukuman, dan lainnya adalah semata - mata adalah tanaman yang buahnya adalah kesuksesan kalian. Teruslah semangat dan jangan bersedih hati dengan cara pendidikan itu.
 Semoga suatu hari nanti, kita semua akan mencapai kesuksesan kita, maka orang tua kita berkata ''kini kau telah menjadi orang besar, nak. Masih ingatkan kau akan cubitan dan pukulan ayah dan bunda sore itu? Inilah hari dimana kau memetik hasilnya.''

Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Aamiin....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ciri Khusus dan Umum Dari Surat Madaniyah